Rabu, 01 Juni 2016

PENYALAHGUNAAN IPTEK PADA REMAJA












I.       PENDAHULUAN
Di zaman yang serba canggih ini, manusia sangat suka hidup secara instan dan cepat. Internet adalah salah satu tekhnologi yang paling banyak di manfaatkan orang sekarang karena ada yang mengatakan bahwa internet itu mempunyai banyak manfaat antara lain biasa disebut (3er) yaitu easier, cheaper, dan faster yang artinya lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat. Dari hal itu tak ada alasan orang untuk tidak memanfaatkan teknologi canggih tersebut, mulai dari yang anak kecil, remaja, hingga yang tua sekalipun membutuhkan internet untuk menunjang kehidupan yang modern seperti skarang ini.
Dengan kecanggihan internet tersebut pasti menimbulkan banyak dampak, baik dampak positif maupun negatif. Tak sedikit dari mereka yang salah memanfaatkan kecanggihan internet, khususnya remaja. Mereka seringkali tidak memanfaatkan tekhnologi yang canggih dengan sebaik mungkin. Seperti melihat video porno, ketagihan nge-game, menggunakan sosmed yang tidak penting, dll. Hal itu sangat merugikan banyak pihak baik untuk penggunanya, juga akan merambah ke keluarga, masyarakat, bahkan agama. Hal tersebut sangat miris sekali dan penting untuk di tindak lanjuti guna memperbaiki akhlak dan moral remaja di zaman globalisasi seperti sekarang ini.
Maka dari itu, dalam makalah ini saya akan membahas permasalahan di atas dari segi dakwah islam. Karena dakwah islam juga sangat berperan dalam permasalan remaja sekarang. Dalam makalah ini akan dipaparkan berbagai faktor yang menimbulkan masalah tersebut dan memberikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut

II.    RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana Pandangan Islam (Da’i) terhadap Kemajuan IPTEK ?
b.      Bagaimana Penyalahgunakan IPTEK oleh Remaja?
c.       Bagaimana Solusi Dakwah dalam Mengatasi Penyalahgunaan IPTEK ?




III.  PEMBAHASAN
A.    Pandangan Islam (Da’i) Terhadap Kemajuan IPTEK
Menurut Arkoun, masuknya modernitas (IPTEK) ke dunia Islam melewati suatu proses yang disebut “serbuan” (I’irruption), atau melalui kekerasan yang bersifat militer. Untuk pertamakalinya hal itu terjadi melalui peristiwa sejarah yang sudah sangat popular, yakni ekspedisi Napoleon Banaparte ke mesir (1798-1801). Semenjak itu, modernitas tidak saja menimbulkan implikasi positif dunia islam, tetapi juga sejumlah problem dan tantangan, apalagi mengingat sudah demikian banyaknya kemajuan barat yang tak terpikirkan oleh kaum muslim termasuk kecanggihan internet.[1]
Perkembangan akhir-akhir ini terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi telah begitu meninggalkan umat islam jauh dibelakangnya. Bahkan dalam perkembangan pemikiran umat islam sendiri pun belum tersosialisasikan dengan baik. Lagipula dalam kajian-kajian ilmiah bidang keagamaan justru kalah dan tertinggal dari “orang lain” yang mengkaji keislaman, terutama apabila dibandingkan dengan para orientalis Barat. Juga  dalam penerimaan terhadap pemikiran baru, mayoritas umat islam masih terkesan “menutup diri” dari perkembangan pemikiran keislaman.[2] 
Sesungguhnya, pandangan Islam terhadap Iptek adalah Iptek merupakan suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh seseorang, karena sangat pentingnya Iptek, maka hal tersebut sering disebut dalam Al-Qur’an. dalam arti Islam sangat menganjurkan pengembangan Iptek. Seperti dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut :"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Maksudnya sebagai berikut : sama-sama dari kelompok yang beriman, maka Allah SWT akan masih meninggikan berat bagi mereka, ialah mereka yang berilmu pengetahuan. Jadi, Allah akan suka dengan orang yang mempunyai ilmu yang tinggi termasuk mengembangkan ilmu dalam bidang teknologi, islam tidak melarang umatnya untuk mempelajari teknologi meskipun ilmu itu berasal dari barat. Bahkan islam menganjurkan untuk memanfaatkan teknologi sebagai media dalam mengembangkan agama islam. Seperti contoh, para da’i dapat berdakwah melalui beberapa media massa seperti melalui TV, radio, surat kabar bahkan melalui berbagai social media yang banyak di tawarkan dalam internet.[3]
Namun, disayangkan banyak da’i yang kurang membuka diri untuk lebih mengetahui dalam ilmu pengetahuan khusunya bidang teknologi. Mereka lebih mengedepankan ilmu syar’i yang dianggap lebih penting dan berguna bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Padahal ilmu teknologi sangat membantu mereka dalam menyebarkan dakwah kepada mad’u, itulah yang menjadikan remaja zaman sekarang kurang terkontrol dalam menggunakan teknologi. Hal tersebut paling tidak disebabkan oleh tiga hal :
a.       Umat Islam kurang respect terhadap perkembangan informasi-informasi baru baik dalam skala umum ataupun religi lewat media-media yang tersedia baik cetak maupun lainnya. Bahkan masih banyak para da’i yang membuat jalur pemisah anatara faktor agama dengan faktor yang dianggapnya profan seperti pembangunan nasional umpamanya. Sehingga materi tentang pembangunan nasional tidak termasuk dalam agenda dakwah mereka.
b.      Akibat dari yang pertama, para da’i yang selama ini menjadi kunci informasi religious bagi umat beragama kurang/tidak mampu memberikan dan mensosialisasikan informasi-informasi yang sangat dibutuhkan umat sehubungan dengan perkembangan yang terjadi.
c.       Kedua dilemma di atas berakibat metoda dakwah sampai saat ini implikasinya masih dalam tataran fiqih-sentris(ibadah dan amaliyah-mahdhah).[4]
Itulah uraian dari pandangan islam khususnya da’i dalam menanggapi munculnya IPTEK yang sangat canggih di zaman sekarang ini, kesimpulannya yaitu meskipun ada da’I yang gaul (menggunakan teknologi),namun masih banyak dari para ahli dakwah yang kurang menguasai teknologi untuk di manfaatkan sebagai media dakwah serta untuk mengontrol kegiatan  remaja modern yang banyak mnyimpang dari ajaran agama islam. Mereka masih berpandangan bahwa IPTEK tidak harus di pelajari karena lebih penting mempelajari ilmu syar’i.
B.     Penyalahgunaan IPTEK oleh Remaja
Dewasa ini, dikala globalisasi tidak bisa dihindari dan IPTEK yang terus berkembang pesat, dimana arus informasi dari berbagai negara dan kebudayaan masuk dengan bebas tanpa adanya pemfilteran yang signifikan. Hal tersebut ternyata membawa banyak dampak yang sangat merubah perilaku masyarakat pada umumnya. akan tetapi, perubahan perilaku antara sifat positif dan negatif lebih banyak yang condong ke sifat negatif.
Banyak dari berbagai kalangan yang mengeluhkan maraknya fenomena penyakit sosial, pergaulan bebas, dan degradasi nilai yang semakin berkembang di masyarakat. Penyalahgunaan dan penyimpangan sering kali terjadi dan akhirnya merusak moral manusia terutama remaja. Misalnya saja pada internet, banyak situs porno yang tersebar bebas, perjudian online, penipuan dan bahkan saling hina-menghina antar kelompok di jejaring sosial pun marak terjadi. Hal ini di akibatkan karena:
1.    Rentannya identitas budaya sendiri sehingga sebagai makhluk yang berbudaya, masyarakat kita mudah di pengaruhi oleh budaya lain yang belum tentu sesuai dengan watak dasar kebudayaan yang dimilikinya. Karena itu, diperlukan upaya untuk memperkuat identitas secara kokoh.
2.      Keringnya daya spiritualitas yang bagi masyarakat beragama bersumber pada nilai-nilai agama. Hal ini antara lain juga diakibatkan oleh pola pendidikan agama yang tidak berhasil menyentuh aspek spiritualitas.
3.      Rendahnya daya kontrol sosial terhadap penyebaran pesan-pesan melalui media yang berlangsung secara terus-menerus menyentuh perkembangan perkembangan psikologis masyarakat.[5]
         Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa IPTEK kurang dimanfaatkan oleh remaja untuk hal-hal yang positif banyak dari mereka yang lihai dalam menggunakan teknologi namun kurang dimanfaatkan untuk hal-hal yang bai seperti mengggunakan internet untuk menunjang pembelajaran di sekolah, untuk menyalurkan bakat menulis, dsb. Namun, kenyataannya mereka menyalahgunakan teknologi tersebut, yaitu untuk mengakses video porno, menyebarkan penipuan, dan lain sebagainya.

C.    Solusi Dakwah dalam Mengatasi Penyalahgunaan IPTEK
Dakwah merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang wajib di laksanakan oleh setiap muslim. Kewajiban ini tercermin dari konsep amar ma’ruf  dan nahi munkar. Dalam hal itu dakwah di pahami sebagai tugas besar dan bernilai tinggi, karena berkaitan langsung dengan risalah kerasulan Muhammad.
Untuk mendukung keberhasilan dakwah yang optimal terutama di kalangan remaja, aspek dasar yang harus di lakukan dari gerakan dakwah yaitu pengembangan pola dan strategi dakwah yang relevan dengan perubahan-perubahan sosial yang selalu terjadi.
Dalam makalah ini akan disebutkan setidaknya dua solusi dari segi Dakwah untuk mengatasi penyalahgunaan IPTEK oleh remaja :
a.             Mencerahkan pemikiran Da’i
Da’i yang tercerahkan pada hakikatnya wujud implementasi ulul albab dalam skema Qur’an, atau “rausan fikr” menurut Ali Syariati, yaitu da’i yang memiliki ciri antara lain :
1.      Memiliki sikap pluralis, sehingga mampu memandang suatu kebenaran agama dalam  universal-holistis, dengan sikap al-hanafiyyat-u al-samhah sebagai porosnya, dan mau serta mampu untuk melakukan dialog dalam rangka ta’a-lau-ila-kalimatin-sawa’ dengan pihak lain. Sehingga Islam dapat ditrima dalam konteks antar-lintas mazhab dan aliran.
2.       Memiliki diskursus keilmuan yang komprehensif dalam bidang-bidang social kemasyarakatan (di samping bidang spesifikasinya), bukan hanya sekedar memiliki dogma akidah-tauhidiyyah yang minim dengan dalil-dalil normatif-subjektif yang membentuk skema fiqih-sentris yang selama ini menjadi “senjata sakti” kebanyakan muballigh.
3.       Memiliki wawasan keilmuan/pemikiran dan daya empiris yang luas dan kuat, sehingga premis-premis dan postulasi yang dikeluarkannya berdaya ilmiah (argumentative-filosofis) dan mampu membawa umat pada dimensi ulil abshar, bukan sekedar mendakwahkan surga dan neraka serta hal-hal yang membatalkan shalat belaka.
4.      Mempunyai daya kepekaan social dan wawasan lingkungan yang cukup, yang dapat menimbulkan ghirah intelektual yang cukup, yang dapat menimbulkan ghirah intelektual yang mapan, bukan sekedar intelegensia yang marginal.
5.      Selalu intens dengan perkembangan-perkembangan baru dalam skala nasional maupun internasional dan mampu mentransformasikannya pada umat dengan tanpa menimbulkan kegelisahan atau perpecahan umat itu sendiri, sedang logika universalitas holistis di jadikan poros sistema-sistema yang mondial (think globally and act locally).[6]
Jadi, jika para da’i sudah mempunyai pikiran yang modern dan lebih membuka diri terhadap teknologi modern, maka para da’i akan lebih mudah dalam mengontrol para mad’u yang menyeleweng terutama para remaja yang aktif dalam menggunakan teknologi seperti internet dan sebagainya.
b.            Memodernasi manajemen pendidikan pondok pesantren
Di zaman modern ini, proses sekularisasi dalam berbagai bidang kehidupan berjalan dengan gencarnya, tetapi di lain pihak untuk keinginan melakukan kegiatan islamisasi pun tidak kalah gencarnya. Fenomena BMI (Bank Muamalat Indonesia) BPR-BPR Syari’ahnya, kini sedang intensif didirikan, atau kajian-kajian yang intensif tentang IIP (Islamisasi Ilmu Pengetahuan) adalah merupakan satu indikasinya.
Jika fenomena ini di tangkap dan diantisipasi dengan baik oleh pondok pesantren, lalu dicoba ditransformasikan dalam rangka pengembangan kurikulumnya, maka hal itu tentu akan sangat brmanfaat bagi keberadaan dan kelangsungan khidupan pondok pesantren. Islam di dalam berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, politik, social, pendidikan, hokum, bahkan teknologi, harus dipelajari di pesantren. Demikian pula ketrampilan manajemen dan latihan kepemimpinan harus pula mendapatkan perhatian. Tentu saja dengan memperhatikan tingkatannya. Sistematika pengkajian kitab-kitab juga harus dilakukan , agar dalam tenggang waktu tertentu para santri mendapatkan materi agama Islam yang integrative dan kaffah. Sementara itu, persoalan-persoalan pembangunan masyarakat lingkungan pondok pesantren harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan pondok pesantren itu sendiri, sekaligus bagian ini menjadi tempat para santri  dalam membina kepekaan dan tanggung jawab social yang sangat di anjurkan dalam ajaran islam
Apabila telah keluar dari pondok pesantren, para alumni harus tetap terikat dengan almamaternya, dan almamaternya pun harus melakukan pemantauan sekaligus dan saling memberikan informasi. Ini pun dimaksudkan untuk saling memelihara diri, agar tetap istiqamah dalam nilai-nilai perjuangan islam, sebab godaan hidup itu cukup besar arusnya.
Jika demikian, arah pendidikan pondok pesantren, maka insya Allah masa depan pondok pesantren akan tetap kuat dan cerah serta dibutuhkan keberadaan dan kehadirannya oleh masyarakatnya.[7]  
Dari uraian diatas, maka kita dapat menerapkan kurikulum modern dalam pendidikan pesantren artinya pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja namun mengenalkan santrinya pada ilmu pengetahuan lainnya supaya para santri dapat mengikuti kemajuan di zaman modern ini, dan lulusan dari pondok pesantren tidak hanya bahli dalam bidang agama namun juga dapat berdakwah melalui teknologi dan dapat mengontrol orang-orang yang melanggar aturan agama.







IV.  KESIMPULAN
Pandangan islam khususnya da’i dalam menanggapi munculnya IPTEK yang sangat canggih di zaman sekarang ini, kesimpulannya yaitu meskipun ada da’I yang gaul (menggunakan teknologi),namun masih banyak dari para ahli dakwah yang kurang menguasai teknologi untuk di manfaatkan sebagai media dakwah serta untuk mengontrol kegiatan  remaja modern yang banyak mnyimpang dari ajaran agama islam. Mereka masih berpandangan bahwa IPTEK tidak harus di pelajari karena lebih penting mempelajari ilmu syar’i.
IPTEK kurang dimanfaatkan oleh remaja untuk hal-hal yang positif banyak dari mereka yang lihai dalam menggunakan teknologi namun kurang dimanfaatkan untuk hal-hal yang bai seperti mengggunakan internet untuk menunjang pembelajaran di sekolah, untuk menyalurkan bakat menulis, dsb. Namun, kenyataannya mereka menyalahgunakan teknologi tersebut, yaitu untuk mengakses video porno, menyebarkan penipuan, dan lain sebagainya.
Dalam makalah ini akan disebutkan setidaknya dua solusi dari segi Dakwah untuk mengatasi penyalahgunaan IPTEK oleh remaja yaitu mencerahkan pemikiran Da’i dan memodernasi manajemen pendidikan pondok pesantren

V.    PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami buat dengan sebaik-baiknya, kami menyadari bahwa makalah kami ini masih sangat banyak kekurangan baik dari segi penulisan maupun materi, maka dari itu kami sangat berharap saran dan kritik dari pembaca guna untuk memperbaiki kualitas makalah kami. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk penulis pada khususnya maupun pembaca pada umumnya.





DAFTAR PUSTAKA
Anas, Ahmad,  Paradigma Dakwah Kontemporer, 2006, Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra.
Hafidhuddin, Didin, Dakwah Aktual, 1998, Jakarta : Gema Insani Press.
Putro, Suadi, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, 1998, Jakarta : Paramadina.



[1] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas,1998,Jakarta :               Paramadina,hal.51
[2] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra,hal.111
[4] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra,hal.111           

[6] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra,hal.113-114
[7] Didin Hafidhuddin, ,Dakwah Aktual,1998,Jakarta : Gema Insani Press,hal.123-124
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar