I. PENDAHULUAN
Di
zaman yang serba canggih ini, manusia sangat suka hidup secara instan dan
cepat. Internet adalah salah satu tekhnologi yang paling banyak di manfaatkan
orang sekarang karena ada yang mengatakan bahwa internet itu mempunyai banyak
manfaat antara lain biasa disebut (3er) yaitu easier, cheaper, dan faster yang
artinya lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat. Dari hal itu tak ada alasan
orang untuk tidak memanfaatkan teknologi canggih tersebut, mulai dari yang anak
kecil, remaja, hingga yang tua sekalipun membutuhkan internet untuk menunjang
kehidupan yang modern seperti skarang ini.
Dengan
kecanggihan internet tersebut pasti menimbulkan banyak dampak, baik dampak
positif maupun negatif. Tak sedikit dari mereka yang salah memanfaatkan
kecanggihan internet, khususnya remaja. Mereka seringkali tidak memanfaatkan
tekhnologi yang canggih dengan sebaik mungkin. Seperti melihat video porno,
ketagihan nge-game, menggunakan sosmed yang tidak penting, dll. Hal itu sangat
merugikan banyak pihak baik untuk penggunanya, juga akan merambah ke keluarga,
masyarakat, bahkan agama. Hal tersebut sangat miris sekali dan penting untuk di
tindak lanjuti guna memperbaiki akhlak dan moral remaja di zaman globalisasi
seperti sekarang ini.
Maka
dari itu, dalam makalah ini saya akan membahas permasalahan di atas dari segi
dakwah islam. Karena dakwah islam juga sangat berperan dalam permasalan remaja
sekarang. Dalam makalah ini akan dipaparkan berbagai faktor yang menimbulkan
masalah tersebut dan memberikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut
II. RUMUSAN
MASALAH
a. Bagaimana
Pandangan Islam (Da’i) terhadap Kemajuan IPTEK ?
b. Bagaimana
Penyalahgunakan IPTEK oleh Remaja?
c. Bagaimana
Solusi Dakwah dalam Mengatasi Penyalahgunaan IPTEK ?
III. PEMBAHASAN
A.
Pandangan
Islam (Da’i) Terhadap Kemajuan IPTEK
Menurut
Arkoun, masuknya modernitas (IPTEK) ke dunia Islam melewati suatu proses yang
disebut “serbuan” (I’irruption), atau melalui kekerasan yang bersifat militer. Untuk
pertamakalinya hal itu terjadi melalui peristiwa sejarah yang sudah sangat
popular, yakni ekspedisi Napoleon Banaparte ke mesir (1798-1801). Semenjak itu,
modernitas tidak saja menimbulkan implikasi positif dunia islam, tetapi juga
sejumlah problem dan tantangan, apalagi mengingat sudah demikian banyaknya
kemajuan barat yang tak terpikirkan oleh kaum muslim termasuk kecanggihan
internet.[1]
Perkembangan
akhir-akhir ini terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi
telah begitu meninggalkan umat islam jauh dibelakangnya. Bahkan dalam
perkembangan pemikiran umat islam sendiri pun belum tersosialisasikan dengan
baik. Lagipula dalam kajian-kajian ilmiah bidang keagamaan justru kalah dan
tertinggal dari “orang lain” yang mengkaji keislaman, terutama apabila
dibandingkan dengan para orientalis Barat. Juga
dalam penerimaan terhadap pemikiran baru, mayoritas umat islam masih
terkesan “menutup diri” dari perkembangan pemikiran keislaman.[2]
Sesungguhnya,
pandangan Islam terhadap Iptek adalah Iptek merupakan suatu hal yang tidak bisa
ditinggalkan oleh seseorang, karena sangat pentingnya Iptek, maka hal tersebut
sering disebut dalam Al-Qur’an. dalam arti Islam sangat menganjurkan
pengembangan Iptek. Seperti dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya
sebagai berikut :"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Maksudnya
sebagai berikut : sama-sama dari kelompok yang beriman, maka Allah SWT akan
masih meninggikan berat bagi mereka, ialah mereka yang berilmu pengetahuan. Jadi,
Allah akan suka dengan orang yang mempunyai ilmu yang tinggi termasuk
mengembangkan ilmu dalam bidang teknologi, islam tidak melarang umatnya untuk
mempelajari teknologi meskipun ilmu itu berasal dari barat. Bahkan islam
menganjurkan untuk memanfaatkan teknologi sebagai media dalam mengembangkan
agama islam. Seperti contoh, para da’i dapat berdakwah
melalui beberapa media massa seperti melalui TV, radio, surat kabar bahkan
melalui berbagai social media yang banyak di tawarkan dalam internet.[3]
Namun,
disayangkan banyak da’i yang kurang membuka diri untuk lebih mengetahui dalam
ilmu pengetahuan khusunya bidang teknologi. Mereka lebih mengedepankan ilmu
syar’i yang dianggap lebih penting dan berguna bagi kehidupan di dunia maupun
di akhirat. Padahal ilmu teknologi sangat membantu mereka dalam menyebarkan
dakwah kepada mad’u, itulah yang menjadikan remaja zaman sekarang kurang
terkontrol dalam menggunakan teknologi. Hal tersebut paling tidak disebabkan
oleh tiga hal :
a. Umat
Islam kurang respect terhadap perkembangan informasi-informasi baru baik dalam
skala umum ataupun religi lewat media-media yang tersedia baik cetak maupun
lainnya. Bahkan masih banyak para da’i yang membuat jalur pemisah anatara
faktor agama dengan faktor yang dianggapnya profan seperti pembangunan nasional
umpamanya. Sehingga materi tentang pembangunan nasional tidak termasuk dalam
agenda dakwah mereka.
b. Akibat
dari yang pertama, para da’i yang selama ini menjadi kunci informasi religious
bagi umat beragama kurang/tidak mampu memberikan dan mensosialisasikan
informasi-informasi yang sangat dibutuhkan umat sehubungan dengan perkembangan
yang terjadi.
c. Kedua
dilemma di atas berakibat metoda dakwah sampai saat ini implikasinya masih
dalam tataran fiqih-sentris(ibadah dan amaliyah-mahdhah).[4]
Itulah uraian dari pandangan islam
khususnya da’i dalam menanggapi munculnya IPTEK yang sangat canggih di zaman
sekarang ini, kesimpulannya yaitu meskipun ada da’I yang gaul (menggunakan
teknologi),namun masih banyak dari para ahli dakwah yang kurang menguasai
teknologi untuk di manfaatkan sebagai media dakwah serta untuk mengontrol
kegiatan remaja modern yang banyak
mnyimpang dari ajaran agama islam. Mereka masih berpandangan bahwa IPTEK tidak
harus di pelajari karena lebih penting mempelajari ilmu syar’i.
B.
Penyalahgunaan
IPTEK oleh Remaja
Dewasa ini, dikala globalisasi tidak
bisa dihindari dan IPTEK yang terus berkembang pesat, dimana arus informasi
dari berbagai negara dan kebudayaan masuk dengan bebas tanpa adanya pemfilteran
yang signifikan. Hal tersebut ternyata membawa banyak dampak yang sangat
merubah perilaku masyarakat pada umumnya. akan tetapi, perubahan perilaku
antara sifat positif dan negatif lebih banyak yang condong ke sifat negatif.
Banyak dari berbagai kalangan yang mengeluhkan maraknya fenomena penyakit
sosial, pergaulan bebas, dan degradasi nilai yang semakin berkembang di
masyarakat. Penyalahgunaan dan penyimpangan sering kali terjadi dan akhirnya
merusak moral manusia terutama remaja. Misalnya saja pada internet, banyak
situs porno yang tersebar bebas, perjudian online, penipuan dan bahkan saling
hina-menghina antar kelompok di jejaring sosial pun marak terjadi. Hal ini di
akibatkan karena:
1. Rentannya
identitas budaya sendiri sehingga sebagai makhluk yang berbudaya, masyarakat
kita mudah di pengaruhi oleh budaya lain yang belum tentu sesuai dengan watak
dasar kebudayaan yang dimilikinya. Karena itu, diperlukan upaya untuk
memperkuat identitas secara kokoh.
2.
Keringnya
daya spiritualitas yang bagi masyarakat beragama bersumber pada nilai-nilai
agama. Hal ini antara lain juga diakibatkan oleh pola pendidikan agama yang
tidak berhasil menyentuh aspek spiritualitas.
3.
Rendahnya
daya kontrol sosial terhadap penyebaran pesan-pesan melalui media yang
berlangsung secara terus-menerus menyentuh perkembangan perkembangan psikologis
masyarakat.[5]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa IPTEK kurang dimanfaatkan oleh remaja untuk hal-hal yang positif banyak
dari mereka yang lihai dalam menggunakan teknologi namun kurang dimanfaatkan
untuk hal-hal yang bai seperti mengggunakan internet untuk menunjang
pembelajaran di sekolah, untuk menyalurkan bakat menulis, dsb. Namun, kenyataannya
mereka menyalahgunakan teknologi tersebut, yaitu untuk mengakses video porno,
menyebarkan penipuan, dan lain sebagainya.
C. Solusi Dakwah dalam Mengatasi
Penyalahgunaan IPTEK
Dakwah merupakan bagian integral
dari ajaran Islam yang wajib di laksanakan oleh setiap muslim. Kewajiban ini
tercermin dari konsep amar ma’ruf dan nahi
munkar. Dalam hal itu dakwah di pahami sebagai tugas besar dan bernilai
tinggi, karena berkaitan langsung dengan risalah kerasulan Muhammad.
Untuk mendukung keberhasilan dakwah yang optimal
terutama di kalangan remaja, aspek dasar yang harus di lakukan dari gerakan
dakwah yaitu pengembangan pola dan strategi dakwah yang relevan dengan
perubahan-perubahan sosial yang selalu terjadi.
Dalam makalah ini akan disebutkan
setidaknya dua solusi dari segi Dakwah untuk mengatasi penyalahgunaan IPTEK
oleh remaja :
a.
Mencerahkan pemikiran Da’i
Da’i yang tercerahkan pada
hakikatnya wujud implementasi ulul albab dalam skema Qur’an, atau “rausan fikr”
menurut Ali Syariati, yaitu da’i yang memiliki ciri antara lain :
1.
Memiliki sikap pluralis, sehingga mampu memandang
suatu kebenaran agama dalam
universal-holistis, dengan sikap al-hanafiyyat-u al-samhah sebagai
porosnya, dan mau serta mampu untuk melakukan dialog dalam rangka
ta’a-lau-ila-kalimatin-sawa’ dengan pihak lain. Sehingga Islam dapat ditrima
dalam konteks antar-lintas mazhab dan aliran.
2.
Memiliki
diskursus keilmuan yang komprehensif dalam bidang-bidang social kemasyarakatan
(di samping bidang spesifikasinya), bukan hanya sekedar memiliki dogma
akidah-tauhidiyyah yang minim dengan dalil-dalil normatif-subjektif yang
membentuk skema fiqih-sentris yang selama ini menjadi “senjata sakti”
kebanyakan muballigh.
3.
Memiliki
wawasan keilmuan/pemikiran dan daya empiris yang luas dan kuat, sehingga
premis-premis dan postulasi yang dikeluarkannya berdaya ilmiah
(argumentative-filosofis) dan mampu membawa umat pada dimensi ulil abshar,
bukan sekedar mendakwahkan surga dan neraka serta hal-hal yang membatalkan
shalat belaka.
4.
Mempunyai daya kepekaan social dan wawasan lingkungan
yang cukup, yang dapat menimbulkan ghirah intelektual yang cukup, yang dapat
menimbulkan ghirah intelektual yang mapan, bukan sekedar intelegensia yang
marginal.
5.
Selalu intens dengan perkembangan-perkembangan baru
dalam skala nasional maupun internasional dan mampu mentransformasikannya pada
umat dengan tanpa menimbulkan kegelisahan atau perpecahan umat itu sendiri,
sedang logika universalitas holistis di jadikan poros sistema-sistema yang
mondial (think globally and act locally).[6]
Jadi, jika para da’i sudah mempunyai pikiran yang modern dan lebih membuka
diri terhadap teknologi modern, maka para da’i akan lebih mudah dalam mengontrol
para mad’u yang menyeleweng terutama para remaja yang aktif dalam menggunakan
teknologi seperti internet dan sebagainya.
b.
Memodernasi manajemen pendidikan pondok pesantren
Di zaman modern ini, proses sekularisasi dalam berbagai bidang kehidupan berjalan
dengan gencarnya, tetapi di lain pihak untuk keinginan melakukan kegiatan
islamisasi pun tidak kalah gencarnya. Fenomena BMI (Bank Muamalat Indonesia)
BPR-BPR Syari’ahnya, kini sedang intensif didirikan, atau kajian-kajian yang
intensif tentang IIP (Islamisasi Ilmu Pengetahuan) adalah merupakan satu
indikasinya.
Jika fenomena ini di tangkap dan diantisipasi dengan baik oleh pondok
pesantren, lalu dicoba ditransformasikan dalam rangka pengembangan
kurikulumnya, maka hal itu tentu akan sangat brmanfaat bagi keberadaan dan
kelangsungan khidupan pondok pesantren. Islam di dalam berbagai disiplin ilmu
seperti ekonomi, politik, social, pendidikan, hokum, bahkan teknologi, harus
dipelajari di pesantren. Demikian pula ketrampilan manajemen dan latihan kepemimpinan
harus pula mendapatkan perhatian. Tentu saja dengan memperhatikan tingkatannya.
Sistematika pengkajian kitab-kitab juga harus dilakukan , agar dalam tenggang
waktu tertentu para santri mendapatkan materi agama Islam yang integrative dan
kaffah. Sementara itu, persoalan-persoalan pembangunan masyarakat lingkungan
pondok pesantren harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan
pondok pesantren itu sendiri, sekaligus bagian ini menjadi tempat para
santri dalam membina kepekaan dan
tanggung jawab social yang sangat di anjurkan dalam ajaran islam
Apabila telah keluar dari pondok pesantren, para alumni harus tetap terikat
dengan almamaternya, dan almamaternya pun harus melakukan pemantauan sekaligus
dan saling memberikan informasi. Ini pun dimaksudkan untuk saling memelihara
diri, agar tetap istiqamah dalam nilai-nilai perjuangan islam, sebab godaan
hidup itu cukup besar arusnya.
Jika demikian, arah pendidikan pondok pesantren, maka insya Allah masa
depan pondok pesantren akan tetap kuat dan cerah serta dibutuhkan keberadaan
dan kehadirannya oleh masyarakatnya.[7]
Dari uraian diatas, maka kita dapat menerapkan kurikulum modern dalam pendidikan
pesantren artinya pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja namun
mengenalkan santrinya pada ilmu pengetahuan lainnya supaya para santri dapat
mengikuti kemajuan di zaman modern ini, dan lulusan dari pondok pesantren tidak
hanya bahli dalam bidang agama namun juga dapat berdakwah melalui teknologi dan
dapat mengontrol orang-orang yang melanggar aturan agama.
IV. KESIMPULAN
Pandangan
islam khususnya da’i dalam menanggapi munculnya IPTEK yang sangat canggih di
zaman sekarang ini, kesimpulannya yaitu meskipun ada da’I yang gaul
(menggunakan teknologi),namun masih banyak dari para ahli dakwah yang kurang
menguasai teknologi untuk di manfaatkan sebagai media dakwah serta untuk
mengontrol kegiatan remaja modern yang
banyak mnyimpang dari ajaran agama islam. Mereka masih berpandangan bahwa IPTEK
tidak harus di pelajari karena lebih penting mempelajari ilmu syar’i.
IPTEK kurang
dimanfaatkan oleh remaja untuk hal-hal yang positif banyak dari mereka yang
lihai dalam menggunakan teknologi namun kurang dimanfaatkan untuk hal-hal yang
bai seperti mengggunakan internet untuk menunjang pembelajaran di sekolah,
untuk menyalurkan bakat menulis, dsb. Namun, kenyataannya mereka
menyalahgunakan teknologi tersebut, yaitu untuk mengakses video porno,
menyebarkan penipuan, dan lain sebagainya.
Dalam
makalah ini akan disebutkan setidaknya dua solusi dari segi Dakwah untuk
mengatasi penyalahgunaan IPTEK oleh remaja yaitu mencerahkan pemikiran Da’i dan
memodernasi manajemen pendidikan pondok pesantren
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami buat dengan sebaik-baiknya, kami menyadari bahwa makalah kami ini masih sangat banyak
kekurangan baik dari segi penulisan maupun materi, maka dari itu kami sangat
berharap saran dan kritik dari pembaca guna untuk memperbaiki kualitas makalah
kami. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk penulis pada khususnya
maupun pembaca pada umumnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anas,
Ahmad, Paradigma Dakwah Kontemporer, 2006, Semarang : PT. Pustaka Rizki
Putra.
Hafidhuddin,
Didin, Dakwah Aktual, 1998, Jakarta :
Gema Insani Press.
Putro,
Suadi, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan
Modernitas, 1998, Jakarta : Paramadina.
[1]
Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas,1998,Jakarta
: Paramadina,hal.51
[2] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki
Putra,hal.111
[4] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki
Putra,hal.111
[6] Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer,2006,Semarang : PT. Pustaka Rizki
Putra,hal.113-114
[7] Didin Hafidhuddin, ,Dakwah Aktual,1998,Jakarta : Gema Insani
Press,hal.123-124
Tidak ada komentar:
Posting Komentar